Mojokerto (pplhseloliman.id) – PPLH Seloliman kembali menjadi ruang belajar dan bertumbuh melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis Budidaya dan Pengelolaan Benih Lokal yang berlangsung pada 31 Januari hingga 09 Februari 2026. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan penuh dari PanEco Foundation yang menghadirkan tim ahli dari Pabhoi Greens, India sebagai narasumber dan fasilitator.
Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 20 peserta, yang sebagian besar merupakan petani lokal Seloliman dan sekitarnya. Partisipasi aktif para petani menjadi kekuatan utama dalam proses pembelajaran, karena materi yang diberikan dapat langsung diterapkan dengan kondisi lahan dan praktik pertanian setempat.
Bimbingan teknis ini dipandu langsung oleh tim Pabhoi Greens yang tediri dari NS Nellam Dutta, Deba, dan Rakesh Bora, yang berbagi pengalaman serta praktik terbaik dalam sistem produksi benih lokal berbasis pertanian berkelanjutan. Selama sepuluh hari, peserta mendapatkan pembelajaran komprehensif yang dirancang secara sistematis — mencakup proses dari hulu hingga hilir, mulai dari perencanaan produksi benih hingga penguatan sistem bank benih komunitas.
Pendekatan Hulu: Fondasi Kualitas dan Keberlanjutan
Kegiatan diawali dengan penguatan pemahaman mengenai filosofi dan prinsip dasar pertanian berkelanjutan serta pentingnya kedaulatan benih lokal. Peserta mempelajari teknik penyemaian benih dan persiapan persemaian tanpa tanah (soilless nursery), serta melakukan uji daya kecambah untuk memastikan kualitas dan viabilitas benih.
Selain itu, peserta mendalami pentingnya rotasi tanaman, pengelompokan berdasarkan famili tanaman, dan pengaturan jarak tanam sebagai strategi menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Tahapan ini menjadi fondasi penting, karena kualitas hasil panen sangat ditentukan sejak tahap awal produksi.

Tahap Budidaya: Praktik Lapangan dan Pengelolaan Ekosistem
Memasuki tahap produksi, kegiatan berfokus pada praktik langsung di lapangan. Peserta mempelajari teknik penyanggaan tanaman tomat dan kacang panjang menggunakan bambu, pengelolaan hama dan penyakit secara alami, serta pembuatan pestisida nabati dan pupuk hayati (biofertilizer).
Peserta juga mempraktikkan pembuatan kompos dan vermikompos untuk meningkatkan kesuburan tanah, memahami formulasi pertanian berbasis kearifan lokal, serta manajemen tanah berkelanjutan. Panduan pengelolaan tanaman di dalam rumah plastik (polyhouse) turut menjadi bagian penting dalam sesi pembelajaran.
Pendampingan intensif dari para fasilitator memastikan bahwa setiap materi tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga mampu diterapkan secara nyata oleh para petani di lahan masing-masing.
Tahap Hilir: Panen, Seleksi, dan Penguatan Bank Benih Komunitas
Pada tahap akhir, peserta mempelajari teknik panen untuk produksi benih, proses fermentasi dan ekstraksi benih tomat, seleksi tanaman induk, hingga proses pembersihan, pengeringan, penyimpanan, dan pelabelan benih.
Fokus penting lainnya adalah pengelolaan bank benih komunitas, sebagai langkah strategis dalam menjaga ketersediaan benih lokal yang berkualitas dan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, petani didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna benih, tetapi juga produsen benih yang mandiri.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi bersama sebagai refleksi pembelajaran sekaligus penguatan komitmen untuk menerapkan praktik-praktik yang telah dipelajari secara konsisten dan berkelanjutan.

Kolaborasi untuk Kemandirian dan Kedaulatan Benih
Bimbingan teknis ini menjadi wujud nyata kolaborasi lintas negara dalam memperkuat sistem pertanian berkelanjutan berbasis komunitas. Dukungan PanEco Foundation memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan dan praktik baik yang relevan dengan kebutuhan petani lokal.
Sebagaimana disampaikan oleh pimpinan PPLH Seloliman, kegiatan ini bukan hanya tentang peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga tentang membangun kesadaran dan kemandirian jangka panjang:
“Kami percaya bahwa kedaulatan benih adalah fondasi kedaulatan pangan. Melalui kolaborasi bersama Pabhoi Greens dan dukungan PanEco Foundation, kami berharap petani Seloliman semakin percaya diri untuk memproduksi, mengelola, dan menjaga benih lokalnya sendiri secara berkelanjutan,” jelas Suroso, ketua Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Seloliman.
Melalui kegiatan ini, PPLH Seloliman kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pembelajaran lingkungan dan pertanian berkelanjutan, sekaligus ruang kolaborasi yang memperkuat kemandirian serta ketahanan pangan berbasis komunitas.(*)

