Masyarakat Seloliman, Trawas, Mojokerto, memiliki kearifan lokal yang erat dengan alam dan kehidupan agraris. Tradisi tegalan, Ayom Agroforestry, dan ngeramban menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat.
Istilah tegal bahkan telah dikenal sejak masa Majapahit. Dalam perkembangannya, tegalan dipahami sebagai lahan kering yang digunakan untuk bercocok tanam tanpa sistem irigasi seperti sawah. Di Seloliman, lahan tegalan banyak dikelola dengan pola agroforestry, yaitu memadukan tanaman pertanian dengan pepohonan dalam satu lahan.
Salah satu bentuknya adalah Ayom Agroforestry, sebuah pola pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman hutan dan pertanian dengan memperhatikan naungan, jarak tanam, serta keberagaman jenis tanaman. Sistem ini membentuk beberapa lapisan vegetasi menyerupai hutan, sehingga dapat membantu menjaga kesuburan tanah, mengurangi erosi, mempertahankan kelembapan, meningkatkan biodiversitas, dan mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Lebih dari sekadar teknik bercocok tanam, Ayom Agroforestry mencerminkan filosofi “ayom”, yang berarti menaungi, melindungi, dan memberi kehidupan. Manusia dipandang sebagai bagian dari alam yang harus hidup berdampingan dan saling menjaga. Pengetahuan dalam mengelola tanah, air, tanaman, dan lingkungan tersebut terbentuk dari pengalaman masyarakat selama bergenerasi.

Kearifan lokal lainnya adalah budaya ngeramban, yaitu kegiatan mencari sayuran, tanaman pangan liar, rempah, atau tanaman obat di tegalan dan kawasan sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat, terutama perempuan, memiliki pengetahuan mengenai jenis tumbuhan, musim tumbuh, lokasi, serta cara memanen tanpa merusak keberlanjutannya.
Ngeramban juga menjadi bagian dari ketahanan pangan keluarga. Masyarakat memanfaatkan sumber pangan lokal secukupnya sekaligus menjaga agar tumbuhan tetap dapat tumbuh dan dipanen kembali. Dengan demikian, tegalan tidak hanya menjadi tempat produksi pangan, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan pengetahuan, budaya, dan memori kolektif masyarakat.
Melalui tegalan, Ayom Agroforestry, dan ngeramban, masyarakat Seloliman menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya konsep modern, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan dan kearifan lokal sejak lama. PPLH Seloliman berupaya menjaga dan mengembangkan pengetahuan tersebut dengan memadukannya dengan ilmu lingkungan modern sebagai bagian dari upaya merawat bumi dan kehidupan masyarakat.

