Wana Sasmita Maya merupakan kawasan arboretum hutan hujan tropis di PPLH Seloliman yang menjadi ruang konservasi sekaligus tempat belajar lingkungan hidup. Arboretum sendiri merupakan kawasan yang digunakan untuk koleksi, pelestarian, dan pembelajaran berbagai jenis pohon dan tanaman berkayu, sehingga dapat menjadi sebuah “museum hidup” bagi masyarakat.
Nama Wana Sasmita Maya memiliki makna filosofis yang erat dengan hubungan manusia dan alam. Wana menggambarkan hutan yang dibangun PPLH Seloliman sejak tahun 1990 dari lahan yang sebelumnya kosong dan marginal. Sasmita dimaknai sebagai perlambang atau isyarat untuk bercengkerama dengan alam, sedangkan Maya menggambarkan bayangan hutan hujan tropis yang tenang, damai, dan menyejukkan. Secara keseluruhan, Wana Sasmita Maya dimaknai sebagai hutan yang memberikan pelajaran hidup melalui isyarat-isyarat alam.
Kawasan ini berada di lereng barat Gunung Penanggungan, Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Sejak awal 1990-an, lahan sekitar 4 hektare yang sebelumnya tandus dan gersang secara bertahap dihijaukan melalui proses penanaman dan rehabilitasi lingkungan. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi hutan buatan yang menyerupai ekosistem hutan hujan tropis. Pembangunannya merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, termasuk peserta pendidikan, pemerintah, pegiat lingkungan, dan perusahaan di Jawa Timur.
Kini, arboretum tidak hanya menjadi kawasan hijau, tetapi juga laboratorium alam untuk pendidikan lingkungan hidup. Berbagai jenis pohon tropis, tanaman obat, tanaman konservasi, tumbuhan bawah, serta vegetasi khas pegunungan menjadi bagian dari ekosistem yang dipelajari oleh pengunjung. Kawasan ini juga menyediakan habitat bagi berbagai jenis burung, serangga, dan satwa kecil.

Arboretum sebagai Ruang Belajar
Pembelajaran di Wana Sasmita Maya menggunakan pendekatan belajar melalui pengalaman langsung. Peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi diajak mengamati, mengeksplorasi, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan.
Beberapa program pembelajaran yang dapat dikembangkan antara lain:
Pengenalan Ekosistem Hutan Hujan Tropis melalui jelajah hutan dan pengamatan vegetasi.
Identifikasi Keanekaragaman Hayati, seperti pengenalan pohon, tanaman obat, burung, serangga, dan habitatnya.
Konservasi dan Rehabilitasi Lahan melalui praktik penanaman pohon, konservasi tanah, dan pengenalan daerah resapan air.
Pendidikan Perubahan Iklim dengan mempelajari fungsi hutan dalam menyerap karbon dan menjaga siklus air.
Pendidikan Tanaman Obat dan Etnobotani untuk mengenal hubungan masyarakat dengan tumbuhan.
Daur Air dan Ekologi Sungai melalui pengamatan hubungan antara hutan, tanah, dan sumber air.
Penelitian dan Citizen Science untuk mahasiswa dan komunitas melalui inventarisasi flora-fauna serta pemantauan lingkungan.
Seni dan Interpretasi Alam melalui fotografi, menggambar, jurnal alam, dan refleksi lingkungan.
Eco-Education untuk Anak melalui permainan ekologi, pengenalan pohon, jejak satwa, dan dongeng lingkungan.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Wana Sasmita Maya dapat menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, pengalaman, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Lebih dari tiga dekade setelah proses penghijauan dimulai, kawasan yang dahulu merupakan lahan tandus kini telah berkembang menjadi hutan yang memberikan manfaat ekologis dan edukatif. Wana Sasmita Maya menjadi bukti bahwa pemulihan lingkungan membutuhkan proses panjang, keterlibatan banyak pihak, serta komitmen untuk merawat alam secara berkelanjutan.
Wana Sasmita Maya bukan sekadar kumpulan pohon, tetapi sebuah hutan yang mengajarkan manusia untuk membaca, memahami, dan menghargai alam.

