Jombang – Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Seloliman (YPLHS) melalui dukungan Project MEWLAFOR Tahun 2026 menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Keliling dalam Rangka Pemasaran Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
Kegiatan yang dilaksanakan di Wonosalam, Jombang, pada 17-18 Juni 2026 ini diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari berbagai Kelompok Tani Hutan (KTH) yang budidaya tanaman MPTS dan Bambu, diantaranya Kelompok Tani Hutan Agro Tani Mulyo, Kelompok Tani Hutan Agro Lestari dan Kelompok Tani Hutan Ngudi Lestari.
Sekolah lapang ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan, budidaya, pengolahan, serta pemasaran HHBK sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Kegiatan menghadirkan narasumber dari Cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Jombang, PT LSP Pertanian Seloliman, dan PPLH Seloliman yang menyampaikan materi sesuai bidang keahlian masing-masing. Dari Cabang Dinas Kehutanan, peserta mendapatkan materi mengenai teknis budidaya tanaman sesuai potensi wilayah Wonosalam, termasuk pemilihan komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan berdasarkan kondisi lahan dan karakteristik wilayah setempat.
Sementara itu, narasumber dari PPLH Seloliman menyampaikan dua materi. Materi pertama mengenai Pengenalan Rekayasa Teknologi Agroforestri, yang memberikan wawasan kepada peserta tentang berbagai inovasi dan teknologi sederhana yang dapat diterapkan untuk mendukung pengelolaan lahan agroforestri secara lebih efektif dan produktif. Materi kedua mengenai Strategi Pemanenan dan Pengolahan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) agar Mempunyai Nilai Tambah, yang membahas pentingnya teknik pemanenan yang tepat serta pengolahan hasil agar dapat meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi produk.
Adapun PT LSP Pertanian Seloliman menyampaikan materi mengenai teknik budidaya HHBK yang mengarah pada produk premium, khususnya melalui penerapan prinsip budidaya sehat dan organik. Peserta diajak memahami pentingnya kualitas produk sebagai salah satu faktor utama dalam meningkatkan daya saing di pasar.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal ini terlihat dari aktifnya peserta dalam sesi diskusi, tanya jawab, dan berbagi pengalaman terkait praktik budidaya yang telah dilakukan di kelompok masing-masing. Interaksi yang terjalin antara peserta dan narasumber menjadikan kegiatan berlangsung dinamis serta memberikan ruang pembelajaran yang lebih mendalam.
Melalui kegiatan Sekolah Lapang Keliling ini, diharapkan para anggota KTH dapat mengembangkan potensi HHBK yang dimiliki secara lebih optimal, mulai dari aspek budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan demikian, hasil hutan bukan kayu tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga mendukung upaya pelestarian lingkungan melalui pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Seloliman dalam mendukung penguatan kapasitas masyarakat sekitar kawasan hutan melalui pendidikan, pendampingan, dan pengembangan praktik agroforestri yang berkelanjutan.
Dukungan dari Project MEWLAFOR Tahun 2026 menjadi salah satu wujud kolaborasi dalam mendorong terciptanya masyarakat yang mandiri, sejahtera, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.

