Dalam rangka peningkatan kapasitas kelembagaan dan pengelolaan usaha kelompok agro, tim dari KTH Agrokendalisodo menghadiri kegiatan studi lapangan yang difasilitasi oleh MEWLAFOR pada tanggal 8–9 April di Kabupaten Pati.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai peserta mulai dari Kelompok Tani Hutan (KTH), pendamping, dinas terkait, hingga lembaga seperti Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Seloliman (YPLHS). Fokus utama pembelajaran meliputi pengelolaan kelembagaan, pengelolaan areal (termasuk tanaman), serta pengelolaan usaha berbasis kelompok.
Pada sesi pertama, Ketua KTH Sukobubuk Rejo, Pak Saman, menyampaikan bahwa keberhasilan KTH sangat ditentukan oleh kekuatan kelembagaan dan partisipasi anggota. Dengan luas lahan mencapai 1.300 hektar dan 1.464 KK anggota, KTH ini mampu mengembangkan sistem agroforestry produktif, di mana 1 hektar lahan dapat ditanami hingga 200 tanaman MPTS. Salah satu komoditas unggulan seperti alpukat memiliki nilai ekonomi tinggi, bahkan dapat mencapai Rp500.000 per pohon.
Beliau juga menekankan pentingnya pertemuan rutin anggota, manajemen keuangan yang transparan, serta pengembangan usaha berbasis koperasi. KTH Sukobubuk Rejo juga telah mengembangkan berbagai usaha seperti peternakan, perikanan, dan penjualan bibit. Bahkan, untuk mengatasi kelebihan produksi, mereka telah menjalin kerja sama pemasaran dengan perusahaan Jepang, yaitu Fruitara.

Pada sesi kedua, perwakilan BPDAS, Pak Hendy, menjelaskan pentingnya fungsi Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang melibatkan berbagai pihak melalui model pentahelix. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, LSM, media, dan perguruan tinggi dinilai menjadi kunci dalam keberhasilan program RHL yang berkelanjutan.
Sementara itu, pada sesi ketiga, Bu Rini dari DLH Kabupaten Pati menegaskan bahwa peran pemerintah sangat penting dalam mendukung keberhasilan RHL yang dikelola oleh KTH. Ia juga menyoroti keterkaitan erat antara aspek ekonomi dan ekologi dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Selain itu, pemanfaatan sistem pemasaran berbasis digital atau online market dinilai mampu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kesejahteraan anggota.
Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat mengadopsi praktik-praktik baik dalam penguatan kelembagaan, pengelolaan lahan, serta pengembangan usaha KTH, sehingga mampu mendorong kemandirian ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

