Mojokerto (pplhseloliman.id) — Ratusan warga Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menggelar perayaan Hari Raya Ketupat atau Riyaya Kupat di kawasan Petirtaan Candi Jolotundo,sekitar 1 kilometer dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Selasa (28/3).
Tradisi ini dilaksanakan sepekan setelah Idul Fitri dan menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pelestarian nilai-nilai leluhur.
Perayaan ini memiliki latar belakang sejarah yang kuat dalam tradisi Islam Jawa. Hari Raya Ketupat diyakini berasal dari dakwah Sunan Kalijaga pada abad ke-15, yang memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal. Ketupat dimaknai sebagai simbol “ngaku lepat” atau pengakuan kesalahan, serta sarana mempererat silaturahmi setelah menjalani ibadah Ramadan dan puasa Syawal.
Dalam pelaksanaannya, warga Seloliman mengawali tradisi dengan arak-arakan ketupat menuju Petirtaan Jolotundo. Setelah itu, dilakukan doa bersama yang dipimpin tokoh adat, kemudian ketupat dan hasil bumi diletakkan di sekitar sumber air sebagai simbol rasa syukur. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi identitas budaya masyarakat di lereng Gunung Penanggungan.
Selain sebagai ritual keagamaan, tradisi ini juga sarat dengan kearifan lokal. Nilai gotong royong terlihat dari keterlibatan warga dalam menyiapkan ketupat dan perlengkapan acara. Air dari Petirtaan Jolotundo yang dianggap suci juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas yang dijaga oleh masyarakat setempat.
Makna filosofis Ketupat turut memperkaya tradisi ini. Anyaman janur yang rumit melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isi beras putih mencerminkan kesucian hati setelah saling memaafkan. Tradisi ini juga mengajarkan nilai berbagi, kebersamaan, serta pentingnya menjaga hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Keberadaan Riyaya Ketupat di Seloliman memberikan manfaat besar, terutama bagi generasi muda. Melalui keterlibatan langsung dalam tradisi, mereka dapat memahami identitas budaya, nilai spiritual, serta pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
Dengan terus dilestarikannya tradisi ini, masyarakat berharap Hari Raya Ketupat di Petirtaan Jolotundo tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya yang mampu memperkuat jati diri generasi selanjutnya serta menjaga keberlangsungan kearifan lokal Indonesia.(Ayu)

